You are here: Home » News » Demokrasi Model TI: Cocokkah Diterapkan di Indonesia?

Demokrasi Model TI: Cocokkah Diterapkan di Indonesia?

Di jaman yang sudah serba modern ini, tidak sedikit hal-hal yang sebelumnya dilakukan secara manual mulai digantikan dengan mekanisme berbasis Teknologi Informasi (TI). Seperti halnya yang diterapkan oleh SMK Negeri 1 Bawang Banjarnegara dalam proses demokrasi Pemilihan Ketua OSIS (Pilketos) tahun ini. Setelah menggunakan PILKETOS System pada Pilketos 2013 lalu, tahun ini SMK Negeri 1 Bawang menggunakan sistem baru yaitu SMS Gateway.

Pembuatan sistem ini bertujuan agar Pilketos dapat berjalan lancar dengan menghemat waktu dan biaya. Program yang digagas oleh Ade Pangestu dan Khakim Assidiqi N H dibawah bimbingan Bapak Sugiharto, S.Pd, ini membutuhkan waktu pembuatan yang cukup lama dengan menggunakan sistem GAMU yang dipadukan dengan web.

Program ini bekerja dengan cara registrasi melalui SMS terlebih dahulu kepada SMS Centre SMK Negeri 1 Bawang dan selanjutnya melakukan proses voting dengan format ‘VOTES#KANDIDAT#No Urut Kandidat’ pada hari Kamis, 09 Oktober 2014. Sistem ini bekerja dengan cara menggunakan sebuah komputer sebagai server yang dihubungkan dengan layanan SMS gateway, selanjutnya komputer akan menerima SMS yang dikirim DPT yang telah melakukan registrasi. SMS yang masuk akan dihitung secara otomatis oleh tampilan interface dan ditampilkan secara real-time atau streaming.

Selain kelebihan yang sudah disebutkan sebelumnya, program yang digagas oleh siswa kelas XII RPL 2 ini sudah pasti memiliki kekurangan seperti program TI yang lain. Diantaranya adalah siswa tentu saja harus memiliki pulsa dan memiliki ponsel agar bisa melakukan registrasi dan proses voting. Sayangnya, mekanisme pemilihan ini juga tidak meningkatkan antusiasme dari para siswa. Berbeda dengan pemilihan manual dengan kertas atau pemilihan menggunakan PILKETOS System, dimana setiap kelasnya akan bergantian mengantri untuk memilih di bilik yang sudah disediakan, sistem ini memberikan kebebasan bagi siswa untuk memilih atau tidak sehingga menjadikan mereka malas untuk melakukan pemilihan.

Hal tersebut senada dengan pendapat dari salah seorang siswa kelas XII API, Ridha Mekar Ayu, yang mengatakan bahwa PILKETOS System yang digunakan di tahun 2013 lebih cocok untuk digunakan di SMK Negeri 1 Bawang. Namun tidak sedikit juga siswa yang merasakan kenyamanan dengan sistem SMS Gateway semacam ini. Alasannya tidak lain bahwa proses demokrasi yang diadakan setiap satu tahun sekali ini tidak akan menganggu jam pelajaran dan juga bersifat lebih rahasia.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia ke depannya? Jika proses demokrasi akan terus dilakukan dengan cara manual, berapa banyak biaya yang terbuang hanya untuk sebuah demokrasi yang pada akhirnya hanya mengundang keributan antar pendukung? Jika menggunakan TI seperti PILKETOS System atau SMS Gateway, apakah hal ini bisa menjamin demokrasi bersih dari KKN? Karena seperti yang kita ketahui, data-data semacam ini dapat dengan mudah dimanipulasi oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab. Ataukah kita serahkan saja semuanya pada sang wakil rakyat, sehingga demokrasi Indonesia mengalami kemunduran dengan tidak diadakannya lagi pemilihan langsung? Jawabannya ada di dalam diri kita. Para generasi penerus bangsa!

 

Adinda Saraswati – Penulis merupakan siswi SMKN 1 Bawang Banjarnegara. Aktif di organisasi jurnalistik sekolah. Adinda pernah mengikuti Kelas Menulis yang diadakan oleh Godong Gedang.

Leave a Reply