You are here: Home » Uncategorized » Bakul Dawet Diganjar Film Terbaik!

Bakul Dawet Diganjar Film Terbaik!

Kompetisi Film Pendek Festival Serayu Banjarnegara 2013 adalah rangkaian acara dari Festival Serayu Banjarnegara 2013 yang diekspektasikan oleh Pemkab Banjarnegara sebagai event terbesar se-Jawa Tengah. Kompetisi film pendek ini khusus untuk pelajar Banjarnegara, dan jumlah film yang masuk ada 47 film pendek dari berbagai sekolah di Banjarnegara. Kompetisi ini bertujuan untuk menjadi pemicu agar pelajar Banjarnegara mendapatkan referensi dan pembelajaran produksi film pendek sebagai film yang memiliki nilai edukasi. Program yang dibuat untuk Kompetisi Film Pendek Festival Serayu Banjarnegara 2013 ini antara lain adalah workshop singkat dan screening (pemutaran) 15 film terpilih dan 5 film tamu sebagai referensi dalam 4 hari gelaran kompetisi ini.
Sebagian besar diantara 47 film yang masuk ke panitia sebenarnya memiliki sebuah ide cerita yang sederhana dan menarik, tapi film tersebut masih belum bisa tervisualkan secara baik kedalam sebuah film pendek. Hal ini sangat disayangkan karena film adalah tentang bagaimana kita menyampaikan sebuah cerita atau gagasan lewat audio dan visual kepada penonton sehingga pesan kita tersampaikan. Selain itu ide cerita yang rata-rata diangkat adalah hal-hal yang memang terjadi di Banjarnegara. Tapi sangat disayangkan dengan ide cerita yang sederhana dan menarik tersebut mengapa pada akhir cerita selalu saja ada salah satu pemeran yang mati? Film-film yang masuk ke Kompetisi Film Pendek Festival Serayu Banjarnegara 2013 kemarin hampir semua mengangkat ide cerita sederhana tapi pada akhir film selalu berakhir dengan ironi kematian. 
Di gelaran kompetisi pertama ini, penghargaan film terbaik jatuh kepada film “ Bakul Dawet “ produksi MTs Ma’arif Mandiraja, ide cerita dari film ini sangatlah sederhana dan menarik. Film ini menceritakan tentang fenomena kehidupan didalam satu keluarga, dimana seorang anak yang malu akan pekerjaan ayahnya sebagai penjual Dawet Ayu yang berjualan didekat sekolahnya. Sang anak sadar bahwa usaha ayahnya ini bisa maju ketika ada seorang ibu yang menawari usaha ayahnya untuk digandeng ke restoran besar milik ibu tersebut. Jalan cerita difilm ini memanglah datar, tetapi secara teknis dan penyampaian gagasannya kepada penonton sudah cukup kuat dan jelas. Dan yang paling sederhana dari film ini adalah tentang aspek sebuah keluarga, dan tanpa sebuah ironi kematian diakhir cerita film ini. Selamat MTs Ma’arif Mandiraja!

Leave a Reply