You are here: Home » Banjarnegara » Harmonisasi Emosi dan Pikiran akan Memperkaya Makna Tulisan

Harmonisasi Emosi dan Pikiran akan Memperkaya Makna Tulisan

No thinking – that comes later. You must write your first draft with your heart. You rewrite with your head. The first key to writing is… to write, not to think!

 - William Forester

BANJARNEGARA – Menuliskan sebaris kalimat pada setiap paragraf selalu menjadi tantangan bagi setiap penulis. Kenapa? Penulis kerap digoda oleh hal-hal baru yang terus bermunculan di kepala mereka dan seolah ide itu memaksa untuk keluar melalui tarian tangan yang terus menerjemahkan keinginan hati. Tujuh peserta kelas menulis fiksi bertajuk “Ekspedisi Diri” yang hadir bersama di hari kedua (19/7) dalam kehangatan Homebase Godong Gedang di daerah pasar Pucang, Bawang, juga merasakan hal yang sama. Hasil dari penugasan di hari pertama untuk dipresentasikan di hari kedua cukup membuktikan kerisauan tersebut. Sebagian besar peserta selalu merasa dirayu untuk menahan laju tulisannya demi ide yang baru.

Sebagai pemateri, dosen Universitas Gadjah Mada yang akrab disapa mas Rizal, mencoba untuk menyiasati gejala yang selalu mengganggu proses penulisan fiksi tersebut. Berdasarkan pada quote yang di tulis oleh William Forester pada kisah Finding Forester, mas Rizal mencoba melakukan pendekatan secara personal ke masing-masing peserta. Peserta diajak untuk membacakan dengan sepenuh hati di depan kelas agar mampu menikmati tulisan mereka sendiri. Membaca tulisan di depan kelas merupakan cara agar peserta memiliki harmonisasi emosi terhadap bentuk tulisannya masing-masing. Setelah merasakan perbedaan antara membaca dalam hati dan membaca dengan suara di depan kelas, peserta mulai merefleksi dan memikirkan ulang tulisan mereka masing-masing.

Tulis hingga akhir cerita, setelah itu baca perlahan dengan tempo yang tepat. Itulah harmonisasi emosi dan pikiran agar tulisan yang dibuat oleh peserta memiliki pemaknaan yang lebih mendalam. Selain itu, beberapa referensi juga berikan untuk peserta agar mengetahui forum-forum yang membahas tulisan fiksi dengan nuansa fresh. Referensi ini penting agar peserta berani untuk bergabung dan mengalami proses kritik pada karyanya.

Di penghujung acara, peserta bersepakat untuk kembali berkumpul pasca kelas usai. Agenda berkumpul ini dimaksudkan untuk mengenal peserta menulis seri pertama dengan tema Sinau Bareng Jurnalisme Warga. Selain itu, untuk memantik semangat peserta kelas menulis fiksi “Ekspedisi Diri”, peserta juga ikut berkontribusi dalam program buletin yang siap diterbitkan dalam waktu dekat ini oleh seluruh tim dan peserta kelas menulis. Saatnya menulis dan menciptakan perubahan!Saung Bu MansurTerima kasih untuk Saung Bu Mansur yang telah menyediakan tempat yang sangat asri dan sejuk untuk buka bersama seluruh elemen kelas, sebagai pengantar akhir kelas menulis fiksi “Ekspedisi Diri” bersama Syafrizal dari Ilmu Komunikasi UGM.

Leave a Reply