You are here: Home » Kelas Film Dan Video » #Menuju20Des » Televisi dan Pentingnya Melek Media

Televisi dan Pentingnya Melek Media

siklus-melek-mediaTelevisi merupakan sumber informasi untuk memperluas pengetahuan dan wawasan yang paling mudah didapatkan oleh masyarakat. Ya, memang seperti itu adanya. Keberadaan televisi di era ini memang bukan lagi hal yang mengherankan. Setiap rumah tidak luput dari eksistensinya. Belum lagi semakin canggihnya teknologi informasi dan komunikasi, pesawat televisi juga bisa diakses lewat ponsel. Tidak heran jika televisi begitu dekat dengan masyarakat. Itu baru keberadaan televisi, jika digali lebih dalam lagi mengenai tayangan televisi maka akan semakin banyak alasan yang membuat kehidupan masyarakat tidak bisa lepas dari televisi.

Sekian banyaknya alasan, beberapa di antaranya adalah kemudahan khalayak dalam mengonsumsi pesan-pesan yang dibawa televisi. Sebab, televisi memberikan penyajian tayangan secara audio visual yang jelas akan sangat memudahkan masyarakat untuk mengambil informasi dan meniru tayangan yang ditontonya. Alasan lain adalah tayangan televisi yang tidak lepas dari tajuk kekerasan, kepalsuan, dan erotisme membuat efek kecanduan pada permisanya. Memang tidak melulu tayangan televisi menyajikan  kekerasan secara terang-terangan, sebab tim kreatif media selalu memiliki cara untuk mengemas  kemenarikan tersebut lewat tayangan komedi, reality show, sinetron, dsb. Sehingga bisa digambarkan bahwa tayangan televisi layaknya kekerasan, kepalsuan dan erotisme yang berkedok hiburan atau sering kita temui dengan kata-kata ‘cerita fiktif belaka’.

Pernahkah berpikir betapa mengerikannya tayangan yang berdalih hiburan di televisi? Bukan soal film horor, atau atraksi yang mempertaruhkan nyawa pemerannya. Tapi soal akibat yang berujung kebiasaan pada perilaku sehari-hari. Entah itu tayangan komedi, infotainment, sinetron, drama, reality show, bahkan berita sekali pun. Perlu diingat bahwa pemirsa tidak hanya orang-orang dewasa saja, tapi juga usia anak-anak dan remaja yang masih sangat sensitif dan labil terhadap hal yang mereka tonton. Inilah hal yang perlu dikhawatirkan, bukan saja menuntut perhatian tapi juga berbagai solusi dan alternatif. Mengingat tidak semua tontonan mengandung kekerasan, kepalsuan, dan eritosme.

Pilihan tayangan yang beragam seharusnya bisa membuat pemirsa lebih selektif dalam memilih tontonan. Di samping itu, pentingnya ‘melek media’ menjadi sensor mandiri yang paling efektif terhadap diri permisa dan orang-orang terdekatnya. Kata ‘melek’ yang berarti melihat– dengan konotasi melihat yang lebih jeli, diharapkan permisa bisa kritis terhadap segala bentuk tontonan. Mengingat kekerasan yang menjadi bumbu komedi, kepalsuan dalam reality show, dan erotisme dalam sinetron atau serial. Mestinya, ‘melek media’ bisa menjembatani gagasan mengenai tontonan alternatif.

Konsumsi tontonan televisi yang mengandung unsur kekerasan, kepalsuan, dan erotisme dapat menimbulkan efek kecanduan. Kemudian akan ditonton lagi, dan pada akhirnya menjadi kebiasaan. Setelah menjadi kebiasaan, kemungkinan besar ikut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya gaya hidup, mulai dari pakaian, bahasa-bahasa kasar, pergaulan, hingga pola pikir. Bayangkan saja, bila itu terjadi pada usia anak hingga remaja. Rasa ingin tahu yang besar dan kondisi psikis yang masih labil membuat usia anak dan remaja mudah meniru dan berpikir seperti apa yang menjadi tontonan mereka.

Adanya ‘melek media’ memang tidak bisa mengurangi kedekatan televisi dengan kehidupan masyarakat. Tapi, setidaknya dengan ‘melek media’, akibat yang mengerikan bisa diminimalkan lewat sensor mandiri, selektif dalam memilih tontonan, peduli dengan akibat yang akan diterima dan bijak mendampingi anak-anak dan remaja—dalam menikmati hiburan di layar kaca.

Sulit sekali mencari siapa yang bisa disalahkan dalam persoalan tayangan televisi. Sebagai salah satu sumber berbagai informasi, televisi pasti memiliki tujuan tersendiri dalam setiap tayangannya. Untuk itu sebagai permisa yang peduli akan akibat tayangan televisi, sebaiknya kita lebih melek media dan dengan bijak memilih tontonan alternatif baik di lingkungan keluarga maupun pergaulan.

Mari #Menuju20Des dengan suka cita!

ditulis oleh Ratna Asih, Peserta Kelas Menulis GG Batch 2

Leave a Reply