You are here: Home » Sejarah

Sejarah

“Menenggak bir sebotol, menatap dunia, dan melihat orang-orang kelaparan.

Membakar dupa, mencium bumi, dan mendengar derap huru hara.

Hiburan kota besar dalam semalam, sama dengan biaya pembangunan sepuluh desa.

Kita telah dikuasai satu mimpi untuk menjadi orang lain.

Kita telah menjadi asing ditanah leluhur sendiri.

Orang-orang desa blingsatan, mengejar mimpi, dan menghamba ke Jakarta.

Orang-orang Jakarta blingsatan, mengejar mimpi dan menghamba kepada Jepang, Eropa atau Amerika.”

–  WS. Rendra

Pejambon, 23 Juni1977. Potret Pembangunan dalam Puisi.

Mengapa Kita Menjadi Ada?

Oleh: Godong Gedang

Curahan hati seorang Rendra di tahun 1977 yang dituliskan dalam puisi sastra menjadi cerminan besar dalam kehidupan saat ini. Intisari kehidupan yang berkembang kearah egoisme dan kebutuhan pribadi seolah tumbuh seperti lumut disekitar aliran sungai, begitu hijau dan pekat seolah memberikan tanda bahwa mereka ikut mengalir seperti air. Begitu pula dengan kita yang telah menjadi asing di tanah leluhur. Kalimat itu mewakili perasaan beberapa anak muda di Banjarnegara yang mulai resah akan adanya pola pikir yang stagnan. Banyak sekali yang memilih untuk meninggalkan kota ini karena alasan yang sangat klasik, Banjarnegara hanya “gitu-gitu” saja. Mereka tidak memiliki harapan di Banjarnegara. Mereka hanya menganggap Banjarnegara adalah sebagai takdir di mana mereka dilahirkan.

Banjarnegara adalah kabupaten yang beberapa kali menduduki peringkat teratas jika dilihat dari tingkat kemiskinan. Itu berarti masih sedikit peluang untuk berkembang secara ekonomi dan berdampak adanya urbanisasi dimana masyarakat lebih memilih ke kota lain untuk bekerja. Urbanisasi juga menjadi pemicu yang lain bahwa akan ada banyak sekali anak muda yang memiliki pola pikir yang sama, yakni meninggalkan kota ini. Pemikiran seperti ini tidak bisa secara cuma-cuma bisa disalahkan. Hal yang perlu diluruskan dari pemikiran ini adalah ketika nantinya anak muda memilih untuk mencari ilmu di wilayah lain, ilmu tersebut bisa di bagikan kembali untuk generasi muda lain di Banjarnegara.

Keresahan demi keresahan mulai muncul di benak beberapa anak muda, terutama mereka yang memutuskan merantau. Mereka merasa bahwa Banjarnegara terlalu sepi. Tidak ada aktivitas-aktivitas kreatif yang muncul secara regular seolah mereka tidak memiliki ruang untuk berekspresi. Keresahan ini memunculkan adanya ide untuk membuat beberapa kegiatan kecil. Kegiatan demi kegiatan pun mulai bermunculan, ada yang dimulai dari lingkup desa maupun perkumpulan kegiatan yang didasari dari hobi seperti film atau fotografi. Ditahun 2009, beberapa kelompok produksi film mulai bermunculan dan menghasilkan beberapa karya. Namun proses ini tidak bertahan lama karena tidak adanya ruang yang cukup intensif untuk menampung karya-karya yang sudah ada di Banjarnegara. Begitu pula dengan kegiatan fotografi. Para pegiat foto mulai membentuk kelompok di media sosial untuk berbagi karya mereka, namun itu hanya sebatas sharing, tidak ada keberlanjutan untuk dijadikan sebuah bahasan yang lebih bersifat edukatif.

Kurangnya konsistensi menjadi penyebab mengapa kegiatan yang bersifat kreatif perlahan mulai mengikis. Selain itu, tidak adanya ruang dan pengelolaan terhadap karya-karya yang muncul di Banjarnegara juga menjadi hambatan serius terhadap anak muda. Mereka lebih memilih untuk berkarya di wilayah lain yang lebih menjanjikan ketimbang di Banjarnegara. Berdasarkan hal inilah maka beberapa pegiat kegiatan kreatif tersebut saling kontak untuk membicarakan sebuah konsep yang lebih serius tentang pembentukan ruang dan pengelolaan karya kreatif. Karena keterbatasan jarak dan waktu saat itu –beberapa pegiat berstatus mahasiswa di beberapa kota seperti Jogjakarta, Semarang, dan Jakarta– dan juga keterbatasan waktu beberapa pegiat yang sudah bekerja di Banjarnegara maka obrolan tentang konsep tersebut biasanya dimulai di malam hari saat akhir pekan datang.

Perlahan muncul gagasan secara bergantian, begitu pula dengan perbedaan pendapat dan kesesuaian tujuan awal mengapa mereka berdiskusi. Proses pembahasan ini terjadi cukup lama karena keterbatasan waktu tersebut, namun di penghujung 2012 gagasan tersebut mulai menjadi konsep yang utuh. Konsep memiliki 4 elemen seni yang diusung, yaitu Film, Fotografi, Menulis, dan seni visual. Hanya saja mereka belum menemukan sebuah nama yang cocok untuk mewakili doa mereka, doa yang nantinya akan diemban selama mereka berkegiatan. Beberapa nama bermunculan saat diskusi berlangsung seperti gubuk kreatif, rumah kita, rumah kreatif, dan beberapa nama yang lain.

Nama-nama itu masih belum pas karena maknanya yang terlalu dekat dengan nama-nama panti sosial sedangkan kegiatan mereka adalah kegiatan yang bersifat kreatif, kontemporer lebih tepatnya. Hingga munculah nama Godong Gedang yang dirumuskan oleh Febrian Doni, salah satu mahasiswa yang mengikuti diskusi konsep ruang dan pengelolaan karya sejak awal. Godong Gedang berasal dari bahasa Jawa yakni daun pisang. Nama ini diusulkan oleh Doni karena makna dari godong gedang sangat dekat dengan kebiasaan masyarakat Jawa. Godong Gedang menjadi pilihan anternatif para petani jika hujan turun untuk memayungi mereka. Selain itu, daun pisang juga memiliki banyak kegunaan di lingkungan sosial. Harapannya adalah dengan nama ini, maka kegiatan kreatif kontemporer bisa lebih dekat dengan masyarakat serta para pegiat yang nantinya berkecimpung di dalamnya akan berguna untuk masyarakat.

Setelah konsep dan nama Godong Gedang disepakati, tantangan baru muncul yaitu dimana tempat mereka untuk melangsungkan kegiatan. Mulanya, Witriyadi yang ikut serta dalam pembahasan konsep Godong Gedang menawarkan untuk menggunakan Politeknik Banjarnegara sebagai home base. Secara fasilitas memang politeknik sangat memadai dan sangat membantu kegiatan, namun jangkauannya terlalu jauh dari pusat kota serta ketersediaan angkutan umum. Karena jangkauan dan ketersediaan angkutan umum sangat penting maka pengelola Godong Gedang memikirkan untuk mencari tempat yang dekat dengan fasilitas transportasi umum. Seperti pucuk di cinta ulam pun tiba, ada tawaran untuk menggunakan kantor Kadin yang wilayahnya sangat berdekatan dengan terminal bus. Kedekatan dengan fasilitas umum ini diharapkan akan mempermudah akses pagi calon peserta kelas.

Sembari berbenah dan menyiapkan ruang kelas yang layak, pengelola Godong Gedang juga melangsungkan kegiatan Rembugan Film di Pikas Adventure. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai start awal dan pemacu kegiatan. Selain itu, kegiatan ini juga sebagai pengenalan diri bahwa saat itu sudah terbentuk sebuah konsep baru di Banjarnegara yakni ruang dan pengelolaan karya yang dibagi menjadi 4 elemen. Hasil dari kegiatan itu juga untuk mengumpulkan data base para pegiat dan penikmat film di Banjarnegara. Data base nantinya digunakan untuk berbagai kepentingan termasuk untuk mempromosikan kelas-kelas yang akan dilangsungkan oleh pengelola Godong Gedang.

Beberapa waktu setelah kegiatan pertama Godong Gedang, Kantor Kadin pun siap untuk digunakan. Pengelola mulai menyiapkan beberapa agenda program kelas mereka masing-masing. Kegiatan pertama yang berlangsung di kantor Kadin saat itu adalah kelas intensif. Kelas menulis sebagai pembuka kegiatan, setelah itu diikuti oleh kelas fotografi dan film. Pertemuan kelas menulis sebanyak 7 kali, kelas fotografi 4 kali, dan kelas film 3 kali. Kelas menulis pernah mengundang Sarah Matari — Mahasiswi Fakultas Ilmu Bahasa UGM, S2 – untuk mengisi materi penulisan fiksi. Kelas film juga memiliki program diluar kelas intensif yaitu Rembugan Film 2 dengan mendatangkan Andre Sasono dan Tengku Iskandar dari Kampus IKJ. Serta kelas fotografi yang mendatangkan Hafidz Nofalsyah — mantan jurnalis National Geographic — untuk mengisi kelas Fotografi Jurnalistik dan juga Heri dari Yogyakarta untuk mengisi kelas Pencahayaan.

Kegiatan kelas intensif inipun ternyata memiliki kendala, lagi-lagi soal jarak dan waktu. Pengelola Godong Gedang mayoritas masih berstatus mahasiswa sehingga mereka diwajibkan untuk memprioritaskan kuliahnya terlebih dahulu. Kendala ini membuat kelas intensif menjadi tertunda sehingga pengelola mulai membicarakan kembali cara-cara yang tepat agar kegiatan pengelolaan Godong Gedang bisa tetap konsisten. Salah satu caranya adalah dengan mengadakan kegiatan diluar kelas intensif. Program pertama yang muncul saat itu adalah Mari Menonton yang dibantu oleh FFS. Mari menonton diselenggarakan pada bulan Desember tahun 2013. Mari Menonton menjadi program diluar kelas intensif film sekaligus menjadi pemacu bagi pengelola Godong Gedang untuk meningkatkan kualitas konten dan programnya.

Setelah Mari Menonton usai, pengelola Godong Gedang medapatkan tawaran dari Bapak Wahyu — guru seni SMA Negeri 1 Banjarnegara — untuk menggunakan kantor bekas biro wisata miliknya yang berada di pasar Pucang. Tawaran ini direspon sangat antusias oleh pengelola Godong Gedang karena sejatinya mereka membutuhkan privasi ruang untuk melangsungkan kegiatannya. Awal tahun pun menjadi awal harapan baru, pengelola yang dibantu oleh beberapa freelancer dari kegiatan Mari Menonton mulai membersihkan dan mempersiapkan kantor tersebut untuk di jadikan Home Base baru Godong Gedang.

Home Base baru ini diresmikan pada tanggal 7 Februari 2014. Saat peresmian pun, pengelola mengundang warga setempat serta para pelajar yang pernah berkegiatan bareng Godong Gedang. Pengelola juga mempresentasikan rencana kegiatan di tahun 2014. Kegiatan pertama setelah Home Base diresmikan adalah open project. Open project ini menggabungkan beberapa SMA yang ada di Banjarnegara untuk memproduksi sebuah film. Selain memproduksi sebuah film, Open Project juga memiliki misi tersendiri yakni untuk mendekatkan Godong Gedang akan proses regenerasi. Saat open project berlangsung, ada kegiatan lain dari kelas menulis, yaitu kelas intensif selama 4 hari dengan tema Sinau Bareng Jurnalisme Warga. Kelas ini merupakan program alternatif untuk mengganti kelas intensif yang sudah berjalan selama 7 kali sebelumnya. Kelas intensif selama 4 hari ini juga mengundang Suci Yuana Lestari, Dosen HI UGM serta Castro Suwito dari wartawan Suara Merdeka untuk mengisi kelas penulisan jurnalisme warga.

Hingga saat ini, Home base baru pun digunakan oleh beberapa pelajar yang membutuhkan ruang untuk berdiskusi dan latihan. Hal-hal seperti inilah yang diharapkan pada konsep awal, yakni sebagai ruang untuk mengapresiasi minat dan kemampuan dari pegiat dan penikmat seni yang ada di Banjarnegara. Perjalanan Godong Gedang merupakan pelajaran yang sangat berharga untuk seluruh pengelola sekaligus peserta program dan kelas yang pernah bergabung. Semoga Godong Gedang menjadi salah satu cara agar tidak lupa terhadap diri sendiri ketika nanti diharuskan untuk mengarungi dunia yang lebih luas. Semoga harapan WS. Rendra tentang tidak asing di tanah leluhur ini mampu terwujud karena sejatinya Tuhan menakdirkan kita lahir disebuah daerah karena ada tujuan dan maksudnya. Tidak mungkin itu hanyalah kebetulan semata.

Berproseslah dengan hati, karena hati akan selalu memberikan candu untuk merindu.”