You are here: Home » Kelas Film Dan Video » #MariMenonton » Televisi dan Desain Sebuah Keluarga

Televisi dan Desain Sebuah Keluarga

Notulensi Mari Menonton Sesi 1 – 20 Desember 2014

Banjarnegara- Disapa hujan di siang bolong mungkin sudah biasa. Tapi, hujan siang ini, Sabtu (20/12) ada atmosfer yang berbeda dari sebagian kecil kawula muda yang berkumpul di sudut kota. Sebentuk pesta film Banjarnegara bertajuk ‘Mari Menonton 2014’ adalah sumber semangat berkarya dan kerja tim pemutaran siang itu. Auditorium Politeknik Banjarnegara menjadi tempat yang epic dengan panggung sederhana di sebelah pintu masuk, meja merchandise yang menghadap ke pintu dan frontdesk di depan venue. Tepat pukul 13.30, tim dan penonton berkumpul di depan stage untuk menyaksikan perform dari Witra and the Batirs sebelum dibukanya acara pemutaran film oleh Seja Carisalia, MC acara hari itu. Siapa saja yang datang tentu akan disambut suka cita dengan lantunan lagu yang mengalun merdu dibarengi riuh irama tepuk tangan.

@WitraPrima and the Batirs

@WitraPrima and the Batirs

Pukul 14.00 traffic mengarahkan penonton memasuki ruang pemutaran, dan screening sesi pertama dimulai. Tiga film pendek bertema televisi di lingkungan keluarga menjadi suguhan hangat dan cukup menohok, sebab kasus yang diangkat sangat dekat dengan realita masyarakat. Usai pemutaran, diskusi dimulai dengan mengangkat tema ‘desain keluarga, film, dan televisi’ bersama Fadilla Wulandari, seorang aktivis perempuan, pendiri kelompok belajar anak-anak Adzkia dan mentor parenting.

Fenomena dampak dari tayangan televisi kini begitu mudah untuk ditemui. Bahkan saking mudahnya, hal yang seharusnya menjadi perhatian justru diabaikan. Kalaupun ada upaya dari kaum muda, selalu saja terkendala oleh kebiasaan masyarakat dalam memilih tontonan televisi. Kendala yang demikian memang banyak ditemui oleh penonton sekaligus peserta diskusi. Dengan mengadaptasi nilai dari film pertama berjudul Another Color TV, bu Wulan, sapaan akbrabnya, menyimpulkan bahwa tayangan televisi dalam keluarga menimbulkan segmentasi dan berujung pada reaksi yang berbeda-beda dari berbagai usia. Sehingga dari informasi yang diterima melalui televisi, semestinya ditindaklanjuti dengan metode crosscheck dan critical thinking untuk menanggulangi kesalahpahaman dan sebagai bekal untuk menerangkan tayangan televisi pada usia anak-anak.

Tidak cukup sampai situ, film kedua yang berjudul Di Sekitar Televisi menggambarkan bahwa televisi di masyarakat sebagai interaksi alternatif yang tidak jarang membuat lupa waktu. Bahkan, melupakan pentingnya interaksi dalam keluarga itu sendiri. Keresahan lain timbul ketika televisi menimbulkan persaingan sesama penonton dan upaya untuk mengganti hiburan dari televisi dengan tontonan lainnya. Menurut bu Wulan ketika dalam sebuah keluarga memutuskan untuk mematikan televisi dengan alasan tontonannya tidak baik, berarti harus ada yang mencarikan tontonan alternatif—seperti film pendek salah satunya. Belum lagi upaya untuk membekali usia remaja dengan pemahaman mengenai tayangan televisi. Dicontohkan sebagai upaya adalah forum diskusi yang sedang berlangsung, sebagai wahana edukasi televisi tanpa harus kecanduan menonon tayangan televisi.

Topik yang dinilai sangat dekat dengan realita masyarakat ini, sangat mudah diterima oleh peserta diskusi. Untuk memberikan kesimpulan mengenai televisi di lingkup keluarga, bu Wulan berujar, “televisi di tengah keluarga diharapkan memberikan sajian hiburan dan edukasi yang menambah kehangatan dalam keluarga, sehingga ketika televisi belum mampu memberikan alternatif itu, jadikan televisi sebagai hiasan dan aksesoris saja”.

Fadhila Wulandari dalam diskusi tentang Televisi dalam Keluarga

Fadhila Wulandari dalam diskusi tentang Televisi dalam Keluarga

Usai diskusi, dan penarikan kesimpulan, pintu ruang pemutaran dibuka dan penonton keluar untuk menikmati coffebreak. (Ratna Asih)

Leave a Reply